Case Conference (CC) Bulan Januari

Senin 20 Januari 2020, bertempat di kantor desa Soulowe, Tim sejenakhening.com beserta psikolog, kader di desa intervensi (Potoya, Karawana, Soulowe & Sidera) dan perawat jiwa di puskesmas Dolo dan puskesmas melakukan kegiatan Case Conference (CC) di desa Soulowe. Tujuan kegiatan idi adalah membahas kasus kesehatan mentap apa saja yang sudah ditangani oleh psikolog maupun kader desa, lalu mengedukasinya dan mencari solusi untuk penanganannya. Case Confrence akan rutin dilakukan, satu kali dalam satu bulan selama program “Membangun Ketangguhan Mental Pasca Bencana di Kabupaten Sigi” berlangsung.

Kegiatan dibuka oleh Novi Inriyanny Suwendro selaku projek officer. Novi menjelaskan tentang Case Confrence untuk membahas kasus dilapangan setelah program berjalan selama 2 minggu. Dalam Case Confrence ini, semua memaparkan hal-hal apa saja yang didapatkan dilapangan, baik kendala maupun keberhasilan dalam program.

Pemaparan pertama dilakukan oleh Rini Junita, psikolog yang ditempatkan di puskesmas Biromaru. Rini mengatakan dari tanggal 6 sampai 20 Januari 2020, total kasus sebanyak 12 kasus. 2 kasus adalah rujukan dari dokter umum, 8 kasus didapatkan langsung dari lapangan dan 2 kasus lainnya adalah rujukan dari kader sehat jiwa di desa.

Rini kemudian memaparkan gambaran umum kasus yang didapatkan. Rini mengatakan kasus paling umum adalah kasus somatoform, kondisi psikis termanifestasi ke kondisi fisik. Umumnya disebabkan oleh stress yang tidak tertangani yang kemudian menimbulkan sakit fisik. Rini kemudian melanjutkan bahwa ada kasus menarik yang ia dapatkan dalam bulan ini, yakni dari klien anak usia 2 tahun. Anak tersebut belum bisa jalan dan bicara. Sewaktu Rini menemuinya, Rini mengira yang dialami si klien adalah pengaruh dari kondisi psikolog, Rini berasumsi kemungkinan klien mengidap autis, ID, atau tuli. Setelah diuji diketahui si klien tidak tuli dan tidak autis. Kemungkinan ID lebih mendominasi dan akan di uji lebih lanjut nantinya.

Adapun kasus rujukan dari kader, yakni kasus klien XX, yang pada waktu gempa terbawa likuifaksi di daerah Petobo. Klien tertimpa atap. Setiap melihat langit gelap dan mendengar suara Guntur, klien langsung takut. Klien overload. Klien kadang berusaha mengontrol pikiran dan saat dikunjungi, Rini meminta klien melakukan mindfulness. Klien selanjutnya yaitu klien YY dengan masalah rumah tangga. Klien merasa kecewa. Dampak ekonomi pada klien sangat terasa. Rini melatih mindfulness kepada klien karena klien sering bengong. Kedua klien ini(XX dan YY)  jika dalam waktu 2 minggu tidak ada perubahan maka dilanjutkan dengan CBT.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Ibu Rosna, kader dari desa Sidera. Ibu Rosna menceritakan pengalaman konseling dari pasien yang ia rujuk ke psikolog. Ibu Rosna mengindentifikasi klien memiliki kecemasan berlebih. Disela pemaparan Ibu Rosna, Putu Ardika selaku consultant menunjukan hasil kuesioner awal dari desa Potoya dan desa Sidera. Putu mengatakan di desa Potoya ada 60 orang mengalami kecemasan tinggi dari 125 kuesioner yang disebarkan ditiap desa dan ada 13 orang yang tidak bisa tidur dengan tenang. Ada 3 orang yang depresi berat, 38 orang lainnya depresi ringan. Sedangkan di desa sidera terdapat 60 orang yang mengalami cemas, 92 orang lainnya depresi.

Ibu Erni, yang juga kader desa Sidera menambahkan pengalamannya menangani klien. Ibu Erni mengatakan klien di desa Sidera, si ZZ tangannya selalu berkeringat dan kepala bagian belakangnya selalu sakit ketika shalat. Hal demikian dirasakan sebelum gempa, dan pasca gempa semakin parah. Klien meminta untuk di rukiyah. Klien ini masih dalam penanganan kader Sidera dan jika belum membaik maka akan dirujuk ke psikolog untuk ditenangkan dirinya dengan mindfulness.

Pemaparan selanjutnya adalah pemaparan kasus yang ditangani oleh Indri selaku psikolog yang ditempatkan di puskesmas Dolo. Indri menjelaskan bahwa dipuskesmas Dolo terdapat 38 klien yang ditangani. Pasien berasal dari KIA dan rujukan dokter umum. Banyak yang mengeluhkan sakit fisik tapi saat dicek tidak ada apa-apa, yanga ada hanya gejala psikis seperti marah-marah dll. Salah satu contoh kasus dari indri, ada klien anak usia 15 Tahun tidak menstruasi, dari KIA dirujuk ke dokter umum untuk diperiksa, dan sebelum itu diarahkan ke psikolog untuk disiapkann dirinya tentang hal apapun nanti yang dihadapi. Ketika diperiksa di RS Samaritan, klien di diagnosis Amerrohea Unspecilied.

Selanjutnya Indri menambahkan pasien yang datang didominasi oleh perempuan sebanyak 22 dan 18 orang laki-laki. Ada 2 pasien yang dirujuk ke RS Madani. Setelah itu, Indri kemudian menjelaskan cara mengisi HPP (Hasil Pemeriksaan Psikologi) kepada kader desa. Indri juga mengatakan dilarang mengkonseling keluarga sendiri karena tidak objektif melihat pasien. Indri juga memberi tips-tips untuk mengisi HPP dengan benar seperti mencatat point-point penting disebuah buku saat konseling yang kemudian akan di salin ke HPP atau bisa merekam suara saat sesi konseling menggunakan hp, harus selalu minta izin untuk dokumentasi dll serta menjaga kontak mata dengan klien. Disela penjelasan dari Indri, Rini menambahkan ketika melakukan konsleing, jangan sibuk mencatat hingga lupa sama klien, tetap fokus pada konseling individu dan perihal observer, observer tersebut boleh ada jika klien bersedia. Setelah itu Indri meminta kader menceritakan hasil pemeriksaan konseling yang sudah dilakukan di desa. Kemudia salah seorang kader dari desa Karawana (Ibu Hikmah) menanyakan “bolehkah pakai bahasa sehari-hari saat mengisi HPP? Karena sulit pakai bahasa baku”. Indri menjawab “boleh, asalkan bahasanya mudah dimengerti”.

Selanjutnya Khadija selaku kader desa Potoya menceritakan kondisi klien yang ia tangani. Khadija menjelaskan klien ini sudah dua kali dari RSJ dan rencana mau dirujuk ke psikolog. Klien sudah berkali-kali dirukiyah tapi tak kunjung membaik. Khadija sudah menemui orang tuanya dan orangtuanya mengatakan klien butuh teman bercerita dan butuh dikuatkan.

Setelah psikolog dan kader menceritakan pengalaman konselingnya, Novi memberi sedikit motivasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh tim atas kerjasamanya diawal program. Selanjutnya Novi menutup kegiatan Case Confrence.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *