Penyuluhan “Dampak Psikologi Bencana”

Kamis, 9 Januari 2020, sejenakheningdotcom melakukan penyuluhan Dampak Psikologi Bencana di Desa Karawana. Penyuluhan ini merupakan kerjasama Sejenakhening.com dengan beberapa NGO, diantaranya Parcic, SKPHAM, RumahBerbagi.id, PMPB NTT, CPMH UGM dan Tramp. Penyuluhan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar mengetahui dan memahami dampak psikologis yang bisa dirasakan setelah bencana sehingga masyarakat menjadi lebih siap menghadapi bencana dan memahami apa saja yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak negatifnya.  Peserta dalam kegiatan ini adalah warga Desa Karawana berjumlah 29 orang dan dihadiri pula oleh psikolog  dan field officers sejenakheningdotcom.

Materi pertama dimulai pukul 14.00 WITA dan dibawakan oleh Indri Sutrisna Widyaningsih M.Psi, Psikolog, biasa disapa Indri. Indri memulai dengan pertanyaan, “Bagaimana cara menyambut luka?” Tidak ada yang menjawab. Kemudian Indri mengenalkan bahwa luka bukan hanya yang terlihat (fisik)  tapi ada luka yang tidak terlihat, seperti luka di hati maupun luka dari masa lalu atau dari bencana yang pernah kita alami. Indri mengingatkan peserta bahwa cerita selama penyuluhan tidak dibawa keluar, cukup untuk dibahas di sini. Indri kemudian berbagi cerita tentang luka yg pernah Ia alami yaitu tentang keluarga untuk memulai sesi berbagi cerita. Ia meminta peserta untuk menuliskan luka mereka masing-masing di kertas.

Peserta awalnya malu untuk menceritakan luka, namun mereka akhirnya bisa mengikuti instruksi.  Kertas yang sudah ditulis, disobek dan ditempel di dinding. Beberapa peserta merasa sedih saat menuliskan luka mereka. Lalu Indri membagi peserta ke dalam 2 kelompok.

Peserta yang hadir lebih memilih untuk tidak berbicara banyak tentang luka mereka. Indri mengakhiri materi dengan mengatakan bahwa tiap luka mempunyai makna.

Materi kedua, Mengatasi Luka, dibawakan oleh Rini Junita Bakri Hasanudin,M.Psi, Psikolog. Rini menyampaikan bahwa manusia bisa bertumbuh dan mengatasi luka , tapi bisa tetap berterima kasih serta berbagi hal-hal yang baik dari luka yang sudah kita dapatkan di masa lampau. Luka justru membantu kita bertumbuh. Kita mampu berdamai dengan luka-luka. Rini juga menambahkan agar peserta belajar berterimakasih untuk luka yang sudah dialami.

Rini juga berinteraksi dengan melemparkan pertanyaan, “bagaimana cara menyembukan luka?” Seorang ibu menjawab “kita bisa menyembuhkan luka dengan curhat kepada orang terdekat di keluarga kita”. Setelah itu ada bapak yang menambahkan “kita harus beribadah untuk menyembukan luka”. Rini mengatakan semua itu benar, tapi harus memahami diri sendiri terlebih dahulu.

Setelah bebrerapa saat, keadaan hening dan Indri kembali mengambil alih melakukan mindfulness session diiringi music instrument. Indri membaca tulisan luka-luka yang sudah ditempel di dinding. Indri berpesan luka jangan diwariskan kepada anak-anak. Indri memberi arahan untuk memperhatikan kotak yang berisi kue dan memilih kue yang ada. Indri mengajak peserta cara memakan kue dengan baik dan nikmat. Indri menyadarkan bahwa kita bisa  memilih, sama dengan luka apakah kita memilih luka atau tidak. Kita punya kontrol penuh pada diri kita tergantung seperti apa yang kita pilih baik dan buruknya. Kita punya pilihan untuk menyembuhkan diri.

Indri mengarahkan peserta untuk duduk bersila dan bernafas dengan nafas  perut, menutup mata. Semua diinstruksikan untuk membayangkan seorang bayi  menangis dan harus menenangkanya dengan penuh kasih sayang. Setelah melakukan gerakan yang diperintahkan,  banyak peserta merasakan sakit pada punggung dan di belakang kepala dan ada juga yang merasakan rileks dan ingin tertidur. Indri dan Rini kemudian mengakhiri materi dan mengembalikan kegiatan kepada moderator untuk menyimpulkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *