The New Normal; 3 Fase Sebelum Menerima Keadaan Ini.

Oleh: Rini Junita Bakri H, M.Psi., Psikolog

Mengambil keputusan di tengah pandemic Covid-19 yang belum ditemukan vaksinnya tentu saja akan menuai kritik dan resiko-resiko tertentu apabila tidak mempertimbangkan seluruh variable dengan matang. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang, kepentingan, kebutuhan, bahkan ideologi pada masing-masing individu. Beberapa minggu belakangan, pemerintah sudah mengeluarkan sinyal untuk melonggarkan PSBB, membuka tempat ibadah, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga sekolah. Hal ini berarti, masyarakat “dipaksa” untuk kembali beraktifitas berdampingan degan resiko terpapar virus Corona setelah selama hampir tiga bulan “dipaksa” mengurung diri di rumahnya masing-masing. Tentu saja, pemerintah perlu mengusahakan adanya keseimbangan dari langkah-langkah yang akan ditempuh sebagai gerbang menuju The New Normal Life atau tatanan hidup bersama covid-19.

Apakah kita, kota Palu khususnya sudah siap menerapkan New Normal Life?

Perlu disadari terlebih dahulu bahwa impian sebagian besar masyarakat saat virus Corona dan Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi adalah pandemi akan segera berakhir, sayangnya, virus akan hilang dalam jangka waktu yang relatif singkat sudah menjadi ilusi. WHO sudah menjelaskan bahwa virus ini mungkin akan menjadi endemi, sehingga opsi untuk tetap #dirumahaja menjadi kurang realistis. Bagaimana masyarakat menghidupi kehidupan keluarganya jika dirumah terus dalam kondisi yang serba tidak pasti? Belum lagi adanya ancaman negara bisa colaps karena tidak ada pergerakan ekonomi. Kondisi tersebut membuat New Normal Life terasa sedikit realistis.

Apakah dapat langsung diterapkan setelah grafik pertambahan kasus positif pada sebuah daerah melandai?

Menurut saya tidak. Terdapat dua persiapan dasar yang harus disiapkan oleh pemerintah. Pertama, sebagai upaya preventif, pemerintah perlu melakukan edukasi yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat terkait penggunaan masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak aman, minim bepergian ke luar daerah/negeri, dan beragam protokol kesehatan ataupun langkah-langkah PHBS. Uapaya yang kedua adalah bentuk kuratif yaitu pengobatan. Hidup berdampingan dengan virus yang belum memiliki vaksin tentu saja perlu persiapan adanya penjangkitan bahkan penularan yang jauh lebih besar dari yang kita hadapi saat ini. Dengan kata lain, pemerinta harus menyiapkan berjuta-juta alat rapidtest yang dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah, alat-alat penunjang pengobatan, tenaga kesehatan, dan kondisi rumah sakit yang layak. Setelah menumbuhkan perasaan aman dihati masyarakat, maka pemerintah dan seluruh lapisan terkait perlu memperhatikan kondisi psikologis masyarakatnya.

Bagaimana kondisi psikologis kita menghadapi New Normal Life

Beberapa orang akan merasa takut, beberapa orang lainnya akan merasa cemas, dan beberapa orang lainnya merasa senang karena dapat beraktivitas sewajarnya. Perbedaan kondisi psikologis tersebut bergantung pada ketahanan individu terhadap stress, riwayat kesehatan mental sebelum pandemi merebak, hingga ke permasalahan ketersediaan dukungan dari kerabat terdekat. Yang perlu diketahui, perubahan-perubahan pola hidup yang berlaku setelah pandemic merebak membuat masyarakat perlu beradaptasi hingga dapat menerima kondisi tersebut. Terdapat tiga tahapan yang harus dilalui agar dapat sampai pada penerimaan, yaitu;

 1. Fase Adaptasi (perubahan aktivitas, pembatasan kegiatan, lebih banyak di rumah),

2. Fase Bingung (adanya perubahan ritme kehidupan dapat memicu timbulnya kelelahan mental. Kelelahan mental ini berisikan pikiran ketidak pastian, perasaan hilangnya kendali atas hidupnya, kekhawatrian keberlangsungan hidup karena penghasilan berkurang yang akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang yang apabila tidak berhasil dilalui akan menimbulkan perilaku-perilaku desktruktif seperti mudah marah, menjadi cemas, perilaku agresi meningkat, konsumi rokok dan minuman beralkohol juga memungkinkan terjadi),

3. Fase Menerima (apabila individu berhasil melampaui dua fase lainnya, maka akan timbul perasaan menerima kondisi yang terjadi). Yang paling penting adalah menjadi realistis, agar mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dilakukan ketika masyarakat diminta untuk hidup bersama Covid-19.

Tapi tentu saja, untuk melihat dampak psikologis dari tatanan kehidupan baru bersama Covid-19 membutuhkan proses dan tidak serta merta terasa dampaknya. Untuk itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan hal di atas tadi agar tidak terjadi peningkatan kasus kesehatan mental 1 hingga 6 bulan diterapkannya New Normal Life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *