Merajut Karsa : Catatan Pemulihan Kesehatan Jiwa di Empat Desa, Dua Kecamatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

Admin

Cerita 1.

Kesehatan Jiwa.

Kesehatan Jiwa. Definisinya banyak tersebar diberbagai sumber. Siapapun sebenarnya bisa menemukannya di berbagai sumber. Ketik menu pencarian di sebuah browser, masukan saja kata kuncinya dan dalam hitungan detik, hasil yang ratusan bahkan ribuan akan terpampang dan tergambar dengan jelas dilayar gadget atau laptop.

Perkaranya, mudah kah mengakses dan memahami pengetahuan tersebut hanya dari internet. Apalagi masih banyak masyarakat Indonesia yang jauh dari kata “sejahtera”. Untuk makan sehari saja masih sulit, apalagi akses internet untuk sekedar menemukan definisi Kesehatan Jiwa.

Coba kita lihat di salah satu Provinsi di Indonesia yaitu Sulawesi Tengah, Provinsi yang persentase kemiskinannya menempati urutan tertinggi kedua setelah Gorontalo[1], tepatnya di kabupaten Sigi, di desa Sidera, Soulowe, Karawana dan Potoya. Bagaimana mereka memahami “Apa itu kesehatan jiwa?”

Ibu Mely

Belum ada. Saya tidak pernah dengar tentang kesehatan jiwa itu. Cuman sering di posyandu saja. Ada dan orang yang gila yang lewat, kalau dia lewat kita kasi biar saja. Biasa kalau dorang ada singgah. Tidak ada juga dorang apa-apakan, tapi biasanya masuk kedalam rumah. Pernah juga dorang hambur bunga-bunga.

Kak Emon

Kesehatan Jiwa itu kan mentalnya kita. Kayak anunya kita mental kita ee. Kayaknya ee.”

Upaya – Upaya Pemerintah

Dinas kesehatan kabupaten Sigi melalui bidang promosi kesehatan mengatakan telah berupaya untuk melakukan promosi kesehatan jiwa yang terintegrasi di program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Secara khsus di kabupaten Sigi, terdapat program Klinik Berjalan Sehat Sigi (KIBAS) yang mengintegrasikan seluruh program dinas kesehatan seperti promosi kesehatan, penyuluhan, penanganan, pelayanan, termasuk pemantauan untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam hal minum obat.

Seksi Kesehatan Jiwa dan NAPZA yang menjadi leading sector penanganan kesehatan juga juga mengupayakan agar dapat melatih tenaga kesehatan jiwa di setiap puskesmas dan mendatangkan narasumber langsung dari pakarnya. Seluruh perawat dan sebagian besar dokter di 15 Puskesmas Kabupaten Sigi telah dilatih. Sementara, untuk promosi kesehatan, beberapa program yang sudah dilakukan yaitu mengadakan sosialiasi tentang kesehatan jiwa dan membuat cetakan pamflet, banner dan juga memperingati hari kesehatan jiwa dengan agenda sesuai dengan panduan dari Kementrian Kesehatan Pusat.

Mendengar upaya-upaya yang sudah dilakukan dinas kesehatan kabupaten Sigi dan mencocokan dengan situasi lapangan, tentu saja kita mendapatkan kesenjangan. Memang benar dinas kesehatan sudah melakukannya, namun jika ternyata masih ada masyarakat yang belum memahaminya, tentu saja ada faktor lain yang menyebabkannya. Apakah karena intensitasnya? Jenis dan ragam kegiatannya? Sumber daya manusianya yang dalam hal ini adalah petugasnya? Atau ada hal lain.

“Mungkin juga karena selama ini upaya kesehatan jiwa belum komprehensif, belum menyeluruh dan masih berfokus pada ODGJ. Kita memang ditargetkan untuk menemukan, menscreening, merawat dan mengedukasi masyarakat terkait ODGJ. Belum sampai pada ODMK, apalagi program-program promosi dan pencegahannya. Biasanya ya ikut program lain.”

Cerita 2.

Waktu bencana?

Bagaimana Kesehatan Jiwa dan penanganannya?

Gempa bumi berkekuatan 6 SR mengguncang Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, Indonesia pada 28 september 2018 pukul 15.00 WITA. Gempa tersebut diikuti oleh beberapa kali gempa susulan hingga terjadi gempa yang paling besar dengan kekuatan 7,4 SR pada pukul 18.02 WITA[2]. Gempa disusul dengan kejadian Tsunami yang tingginya bervariasi dari 1,5 meter sampai dengan 10 meter.

Dinas kesehatan kabupaten Sigi tentu saja merespon penanganan kebencanaan yang terjadi di wilayahnya termasuk aspek Kesehatan Jiwa. Perkaranya adalah keterbatasan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia. Hal ini tentu saja membuat penanganan aspek Kesehatan Jiwa tidak semulus penanganan aspek lainnya.

Setelah gempa, Sekretaris desa Sidera Umar, melihat perubahan yang signifikan pada masyarakat Sidera.

Pasca gempa kemarin yang sepengetahuan saya ada dua masyarakat kami yang mengalami gangguan jiwa. Bahkan saya sendiri yang harus memberi contoh pada masyarakat, saya pun takut. Mungkin bagaimana yang saya rasakan ini itu juga yang di rasakan oleh masyarakat saya. Kami juga membutuhkan arsip data jika memang ada masyarakat kami yang terindikasi gangguan jiwa agar dapat kami tangani jika program telah berakhir.

Sekretaris desa Soulowe juga menyatakan keresahan yang sama bahwa gempa besar 7,4 SR, memang sangat mempengaruhi mental dari masyarakat Soulowe.

“Tetapi intervensi pemerintah tidak dilakukan secara menyeluruh. Tidak dengan melihat masyarakat berdasarkan kebutuhan mentalnya.”Ibu Lita menuturkan, pasca kejadian bencana tidak ada yang membantu dia untuk tetap merasa tenang. Padahal dia merasa sangat cemas setelah bencana itu terjadi.

Penanggulangan Bencana pada Aspek Kesehatan Jiwa

Berdasarkan cerita warga diatas, tampak jelas bagaimana kesenjangan penanganan Kesehatan Jiwa pasca bencana. Dinas Kesehatan masih harus meminjam tenaga ahli dari Rumah Sakit Daerah Madani, tenaga kesehatan harus dilatih oleh tenaga relawan dari organisasi-organisasi kemanusiaan agar dapat melakukan upaya penanganan kesehatan jiwa.  Pada nyatanya, upaya itu pun disadari sangat-sangat terbatas karena masih bersifat reaktif yang mana baru setelah ada bencana, pelatihan-pelatihan diselenggarakan. Sementara itu, kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa masih rendah dan tentu akan menjadi hambatan untuk proses pemulihannya. Tidak adanya promosi Kesehatan jiwa pasca bencana juga seolah-olah menegaskan bahwa tidak telihat penanganan Kesehatan Jiwa secara menyeluruh.

Baca kisah selengkapnya dari Buku Merajut Karsa dengan mengklik link berikut.